Demo, Demo dan demo, begitulah kata-kata yang sedang ngetrend di negeri kita yang sangat tercinta ini. Entah itu warga, buruh, atau mahasiswa, semua biasanya bersifat menuntut dan terkadang anarkis, dibalut dengan alasan mengeluarkan aspirasi, hak berpendapat dan hak menuntut kebebasan mengeluarkan tuntutan.
Biasanya semua berlatarbelakang kekecewaan terhadap pemerintahan yang diemban presiden sekarang. Ya!, semua orang pernah kecewa dan berhak memiliki kekecewaan, sekaligus mengaspirasikannya, dengan sampul demonstrasi tentunya.
Namun, apakah harus turun kejalan?, apakah harus membakar ban-ban, apakah harus “libur” kuliah/kerja?, atau teriak-teriak sambil beryel-yel meminta turun seorang pimpinan yang mungkin kita sadari kita telah memilihnya. Apakah kata demo harus seperti itu?.

Jadi inget sewaktu SMP, kami anggota PMR di SLTP PGRI 1 Tangerang disuruh men demokan apa saja yang dilakukan PMR dan fungsi dari organisasi tersebut. Sepengetahuan saya waktu itu, kata demo selalu kental dengan memamerkan karya, hasil, dan apa yang dilakukan. Bukan menuntut atau malah membakar dan teriak-teriak nggak jelas, itu sepengetahuan dari seorang saya loh, jadi maaf kalo berbeda, karena jujur saya nggak ngerti soal politik dan birokrasi dinegeri ini.
Kecewa?, Kesel?, Tidak Puas?. Yah kita semua pernah punya pikiran seperti itu terhadap semua instansi negara, bahkan sayapun juga pernah. Yah pernah ngerasain gimana rasanya jadi sapi perah di project pemerintahan. Pembuatan KTP yang sering disepelekan. Rogoh kantong sampe kering hanya untuk pelicin. Bayar pajak yang mungkin kita belum merasakan manfaatnya secara penuh, serta semua kekecewaan yang memang kita sendiri pernah mengalaminya bersama-sama.
Namun apakah harus seperti itu menyalurkannya?, apakah tidak ada cara lain. Sudah bertahun-tahun loh cara itu dilakukan. Apakah ada hasil yang signifikan?. Mengapa tidak menggunakan demo dengan cara lain.
Kenapa tidak memilih untuk menyalurkan “tenaga” kita tersebut untuk hal yang lebih bermanfaat, yah misalnya buat anak-anak otomotif, buatlah sesuatu yang bisa menjadikan alternatif bahan bakar selain minyak dan bensin.
Bidang akuntansi dan ekonomi, kenapa tidak membuat semacam seminar untuk para Masyarakat cara berhemat yang efektif untuk sekarang ini. Bidang Pertanian menyuluhkan warga untuk menggalakan sektor pertanian kita yang dulu terkenal dengan bidang agrarisnya.
Mungkin juga bidang IT, gimana membuat suatu open source atau software free pengganti software-software mahal dari luar negeri. Saya yakin koq kalian-kalian bisa menyaingi mereka, contohnya owner Indexu(nicecoder.com) yang memiliki banyak client orang luar negeri.
Masih banyak koq, yang kita bisa lakukan daripada sekedar “bajak” metromini terus ke samping senayan sana sembari neriakin para dewan yang lagi asik tidur. Diimbaskah kalian?, tanya aja diri sendiri, capek nggak?, saya jamin capek. Saya aja yang cuma nonton capek.
Gimana coba cara lain, jangan hanya ikut-ikutan “bolos” kuliah mengatasnamakan membela hak rakyat. Biarkan mereka menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai abdi rakyat(yah bener atau ga bener). Kita juga udah terlalu banyak punya tanggung jawab dan kewajiban kita sendiri sebagai warga.
Hidup Mahasiswa, Makmur Rakyat, Maju Pengusaha, Adillah sang Abdi Negara…







yg namanya resistensi itu adalah perlu dan wajib….apalagi di negara yg mengklaim demokratis… perihal itu norak,tidak pada tempatnya, sia-sia, itu relatif… kalau mereka menganggap demo turun ke jalan sebagai bentuk resistensi mereka, ya itu pilihan mereka….
-Pangeran
@mostboy a.k.a who claim himself as pangeran…
saya setuju pendapat anda,tapi mudah2an nggak semua warga Indonesia seperti itu, dan Alhamdulillah tidak!!…
klo semua turun kejalan…bisa tambah bobrok negara ini..
masih untung masih ada yang nggak turun kejalan ngejagain “tiang-tiang” penyanggah negeri ini..
Yak tul, sekarang kebanyakan mahasiswa yg demo cuman jago bacot doang, padahal ip nya jeblok.