Gengsinya sudah mati

Weekend, biasanya saya bareng temen-temen hangout keluar untuk sekedar nonton atau nyicipin kopi bengawan solo sambil berhotspot ria diwilayah SMS(summarecon mall serpong)BSD, karena suasananya yang pewe banget, serta ada band penghiburnya juga.

Dan kebetulan sehabis dari SMS kita bertamu ke salah satu rumah temen yang sekarang udah jadi ustadz, kholik namanya. Disana sebagai anak-anak muda kita bercanda ria seperti biasanya, dan tiba-tiba salah satu temen kami menceritakan sesuatu yang dia anggap memalukan, atau malah lucu untuk diceritakan.

Doddy namanya, dia bercerita tentang acara festival band/pameran otomotif yang diadakan diwilayah serpong, dia bilang hari itu adalah hari memalukan, karena dia harus nemenin(ngebantu) temen kami yang lain untuk memungut sisa-sisa aqua gelas dari acara tersebut.

Ya, kebetulan teman kami yang satu lagi memilik usaha limbah, jadi baginya saat itu adalah emas yang disia-siakan para pengunjung, tanpa banyak basa-basi Slamet memungut semua sisa aqua gelas tersebut kedalam karung yang dia temui, Doddy pun membantu, namun sepertinya dia malu karena banyak sekali orang saat itu, terlebih semuanya berumuran sama dengan mereka, dan jujur dody itu termasuk orang yang kategory ganteng dan style.

Namun sebagai sobatnya slametpun bertanya sama doddy : “Dod malu nggak lw, kalo malu biarin gw aja sendiri”. Namun memang persahabatan mereka memang solid, doddy pun membantu dengan ikhlas(saya pikir), dan Slametpun menyela cerita doddy dan dia yang melanjutkan, kala itu dia sangat bersemangat sekali, dia bilang bisa dapet berkilo-kilo sekali ambil.

Mendengar ceritanya saya langsung terkagum seraya ketawa ngikik karena ekspresi doddy yang melantunkan cerita tersebut, dan saya nyeletuk bertanya kepada slamet, “met lw nggak malu?”, Namun ditampar saya dengan jawabannya “Buat apa malu, inikan usaha keluarga gw, gw bisa kuliah yah karena ini lagian gw anak pertama”.

Mendengar itu tiba-tiba ketawa saya terhentikan dan menghening sejenak. Malam itu saya mendapat satu pelajaran lagi tentang hidup. Slamet yang dikenal polos dan apa adanya ternyata lebih memiliki mental yang baja dan melakukan sesuatu bukan karena dilihat orang, serta selalu melihat kesempatan itu sebagai kesempatan emas, lingkungan tidak mempengaruhinya sama sekali untuk mengejar impiannya. Keluarganya juga dikenal sebagai pengusaha Angkutan Umum RB(kuning biru) diwilayah Tangerang.

Namun saya pikir Slamet kurang tepat mengambil jurusan dalam kuliah, dia mengambil jurusan IT, sedangkan saya rasa dia lebih cocok kebidang manajemen atau teknik industri.

1 Response to “Gengsinya sudah mati”


  1. 1 diana_bochiel 4 April, 2008 at 3:06 pm

    weiss…sama tuh ceritanya temen lw ma gw,gw juga ga malu sebagai anak “tukang kripik” nyokap gw usaha kecil2an buat nyambung usus..hehe..

    Nah bedanya mungkin klo dia itu ga salah jurusan masuk IT..
    kalo gw salah jurusan…hehehe..

    tapi seiring jalannya waktu IT seru juga,seru bgt malah..
    ya gak?


Leave a Reply




Official Of Arizane Blog

Komunitas

Indonesian Muslim Blogger KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

a

Top Browsers

Mozilla

Visitor